Category: blog, writing tips
26 May 2014,
 2

Oh, jadi kamu memutuskan untuk menjadi penulis romance?

Congratulations buat keputusannya, tapi sekadar informasi, genre ini nggak sesederhana yang ada di pikiranmu.

 

Mitos satu: menulis romance itu gampang

Oh, c’mooooon,  pasti itu yang ada di pikiranmu saat membaca sub judul ini, jangan sok-sokan bikin seolah genre romance itu sakral atau gimana. Menulis romance kan gampang. Nenek-nenek karatan juga bisa.

Oke, mungkin kalian nggak akan bilang kayak gini (minta digaplok mah kalau beneran ada yang ngomong begitu ke aku), tapi nggak usah menyangkal deh: nggak sedikit kan dari teman-teman yang berpikiran serupa? That’s okay, I’m not judging here. Dan memang, sepintas, menulis romance itu seperti nggak ada tantangan berarti. Yang penting nanti di tengah-tengah cerita, si cowok dan si cewek pasti jadian kan?

 

Real life damage control:

Genre romance itu nggak berbeda jauh dengan resep nasi goreng. Nggak ada salahnya juga memasak plek-plekan seperti kata resep. Tapi apakah nasi goreng kamu lantas bisa dianggap spesial?

Alexander Pope pernah memplesetkan quote legendaris Nathaniel Hawthorne jadi: ‘easy writing is a damn hard reading’. Nggak jauh beda dengan analogi nasi goreng tadi, oh yeah, bisa jadi memang menulis romance segampang itu. Tapi yang kita bicarakan ini adalah published romance novel lho ya. Yang targetnya adalah pembaca-pembaca asing yang nggak kenal kamu sama sekali. Yang nggak segan-segan mem-blacklist novel karyamu kalau mereka menganggap tulisanmu ‘basi’ dan ‘standar’. Kalau nggak percaya, monggo atuh, Darling, melenggang sesekali ke blog review buku dan website komunitas pembaca.

Riset dan berlatih menulis, hanya itu kuncinya supaya bisa meng-upgrade wibawa tulisanmu dari biasa aja ke istimewa. Tambahkan ‘bumbu-bumbu’ menarik ke dalam ‘nasi goreng’ romance-mu: entah jadinya akan lebih pedas atau malah terasa lembut dan lumer di lidah. Berikan pembacamu pengalaman lebih, nggak hanya sekadar membaca novel romance. Trust me, buddy, berdasarkan pengalamanku menulis, yang seperti ini NGGAK GAMPANG sama sekali.

 

Mitos dua: novel romance itu pasti laku

Berikut ini adalah fakta-fakta tentang genre ini di Amerika yang berhasil dikumpulkan oleh Romance Writers of America (RWA):

–          Fiksi romance menduduki peringkat teratas di pasar perbukuan Amerika Serikat. Pada tahun 2010 saja, porsi romance sudah 13,4%.

–          Total penjualan novel romance di Amerika: 1,358 biliun dolar (2010), 1,368 biliun dolar (2011).

–          Novel yang dirilis tahun 2010: 8.240 judul.

–          74.800.000 orang di Amerika Serikat membaca paling sedikit satu judul novel romance di tahun 2010.

(sumber: website RWA)

 

Real life damage control:

Ribuan novel romance terbit setiap tahunnya dan tahun ganti tahun angkanya pasti akan naik secara konsisten. Nah ya, apa artinya ya fakta ini? ADA BANYAK BANGET NOVEL ROMANCE DI PASARAN. Lebih spesifik lagi, jangankan untuk laris manis tanjung kimpul yang kamu bayangkan, gimana caranya buat stand out di antara lautan novel itu?

Jadi sebenarnya, sulit banget untuk memperjuangkan statement bahwa menulis romance punya kans besar untuk laku. Bahwa pasarnya besar, oh iya. No doubt about it. Tapi dengan banyaknya pilihan seperti itu, sebagai penulis, kemungkinan untuk nggak laku dan diretur pun sama tingginya.

Saran aku: kalau nggak bisa jadi penulis romance terbaik, cobalah untuk berbeda. Daripada langsung menargetkan novel kamu ‘laku’, cobalah mengganti strateginya menjadi ‘mencolok’. Pastikan pembacamu bisa mengenali ke-stand out-an novelmu hanya dari halaman pertama saja. Kalau kamu berada di jalur yang benar, tinggal menunggu waktu  saja kok bagi kamu untuk mengikuti jejak penulis-penulis bestseller yang diidolakan selama ini.

Oh ya, sulit banget memang. Tapi bukan berarti nggak mungkin lho ya.

 

Mitos tiga: menulis romance itu bebas, lepas

Pembaca romance itu gampang dipuaskan kok, pikirmu begitu. Asal nanti di sepanjang cerita ada beberapa kali adegan romantis (termasuk adegan ciuman yang oh-so-mendebarkan), kalimat-kalimat yang menggetarkan hati, dan ditutup dengan indah, novelmu bakal membuat pembacamu jatuh cinta.

 

Real life damage control:

Romance sebenarnya terdiri atas puluhan sub genre yang punya aturan main sendiri. Misalnya: novel romance remaja dilarang racy (sensual). Alasannya, yang membeli novel remaja biasanya adalah orangtua, untuk anak-anaknya. Jadi, tentu saja mereka akan buru-buru menjauhkan novel-novel dengan tema sensual bagi putra-putrinya. Novel dewasa bisa kok sensual, TAPI novel tentang pasangan suami istri harus di-tone down tingkat sensualitasnya. Alasannya, novel tentang pasangan suami-istri biasanya lebih fokus pada nilai-nilai dalam perkawinan dan bagaimana keduanya berjuang keras mempertahankan ikatan sakral itu.

Intinya, pelajari baik-baik behavior target pembacamu. Nggak ada salahnya kok sesekali membuat survey kecil-kecilan supaya kamu bisa mendapat gambaran lebih jelas tentang cerita macam apa yang menarik perhatian pembaca lebih banyak.

2 responses on “WRITING MYTHS: ROMANCE GENRE EDITION

  1. tia says:

    Penasaran pengen nanya, kalo setelah survei dan hasilnya pembaca dan keinginan kita menulis berbeda gmn dong?

    • admin says:

      justru pertanyaannya dibalik aja, tia, buat tahu jawabannya: sebenarnya, kamu menulis untuk siapa? berbagi ke pembaca atau menulis sebenarnya adalah bagian dari pencapaian pribadi? manapun yang kamu pilih, terlihat kok nanti di tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *