Category: blog, writing tips
26 May 2014,
 0

Sebagai penulis, penting untuk menyadari bahwa salah satu tugasmu adalah membuat pembaca jatuh cinta.

Sama seperti di kehidupan nyata saja, untuk memastikan perasaanmu tak bertepuk sebelah tangan, kamu akan melakukan banyak hal supaya dia terkesan. Mengajaknya jalan, mengobrol, menonton film berdua….

Itu kalau dia PUNYA WAKTU untuk belajar mengenal kamu lho ya.

Persoalannya, seringnya tuh, kamu diberi tekanan lebih, harus lebih bisa memberi kesan bahkan dari pertama kali berkenalan. Itu namanya cinta pada pandangan pertama. Kamu harus bisa membuatnya jadi tertarik padamu karena hal-hal yang sederhana: senyummu, tampangmu, suaramu—anything.

“Nah, kalau dengan pembaca bagaimana?” tanyamu sekarang. “Bisakah membuat pembaca jatuh cinta pada pandangan pertama juga?”

Tentu aja bisa. Tapi istilah versi kita para penulis: jatuh cinta pada lima halaman pertama.

*

Perhatikan cara kamu mengeksekusi pilihan membeli buku saat berada di toko: apa kamu akan membacanya sampai selesai, lalu memutuskan untuk membeli? Nggak kan ya. Kamu hanya melihat-lihat sinopsisnya, cover-nya, nama penulisnya. Kalau kebetulan ada yang sudah kebuka plastik pembungkusnya, kamu akan membaca halaman-halaman pertama novel itu.

Sebuah teori mengatakan, pembaca memutuskan tertarik atau tidak membaca sebuah buku dari lima halaman pertama.

Makanya, ada beberapa hal penting yang harus kamu sadari saat menulis bab awal novelmu.

Perkenalkan satu atau dua tokoh utama di awal

Hindari kemungkinan membuat pembaca merasa ‘tertipu’ karena kamu membahas tokoh yang di pertengahan cerita menghilang selamanya. Kalau kamu kebetulan merasa harus membuat cerita dengan tokoh selain tokoh utama dibahas di awal, coba cek-cek lagi plotmu: jangan-jangan, sebenarnya cerita lebih efektif kalau dimulai dari pertengahan plot. Pakai flashback atau berbagai trik menulis lain. Apa saja demi menghindari kemungkinan membosankan.

Action, action, action

Ada kecenderungan memulai cerita dengan menyebutkan pemandangan bla-bla-bla, atau membuat deskripsi panjang-panjang tentang para tokoh utamanya—DON’T! Mulai dengan adegan yang memperlihatkan si tokoh berada pada situasi sulit, dilematis, yang membuat dirinya bereaksi gede. Kinda tricky sih sebenarnya, mengingat ada juga saran bahwa sub konflik yang lebih besar daripada konflik utama akan membuat cerita terasa membosankan.

Perlihatkan sesuatu yang mengejutkan

Kadang-kadang ada yang memulai dengan sesuatu yang nggak biasa di awal, yang efeknya membuat pembaca penasaran, apa yang akan terjadi dengan cerita ini di halaman-halaman berikutnya.

Revision, revision, revision

Nggak salah kok buat mengakui, mulai menulis novel adalah bagian terberat dari semua proses. Boro-boro berpikir cerdas dengan adegan seru, mulai menulisnya saja sudah pusing setengah mati. Nggak pa-pa, ada solusinya kok. Sisakan pekerjaan menulis bab pertama setelah novel hampir selesai. Begitu ketemu kata ‘tamat’, kamu bisa deh utak-atik bagian bab pertamanya supaya lebih nonjok seperti yang kamu mau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *