Category: blog, writing tips
26 May 2014,
 0

You have NO idea how big this problem is in writers’ circle. 🙂

HAPPY ENDING

Pro:

  • Pembaca yang menyukai ending bahagia biasanya yang memiliki motif ‘escapism’ saat menikmati buku-buku pilihannya. Pembaca jenis ini paling senang membaca di saat santai, membuang suntuk sejenak dari kepenatan dunia nyata, dan hanyut di dalam cerita indah di novel yang sedang berada di hadapannya. Mereka senang mengakhiri sesi membaca itu dengan tersenyum, puas karena si tokoh utama mendapatkan yang dia mau dan ternyata masih ada harapan untuk terus berpikir optimis.
  • Ada anggapan bahwa ending sedih dan tragis cenderung dipaksakan oleh penulis karena alasan dramatis. Ada yang memang karena clueless nggak tahu harus mengakhiri tulisannya seperti apa. Ada yang berasumsi, penulis sedang berusaha membuat tulisannya terasa dalam dan oh-so-cerdas.
  • Saat mencari bahan untuk Notes ini, aku menemukan rumor yang mengatakan bahwa di Hollywood, film dengan cerita berakhir bahagia cenderung lebih laris ketimbang film berakhir tragis. Penonton yang sadar betul film yang baru rilis itu punya ending tragis biasanya nggak mau repot-repot sampai ke bioskop segala untuk menontonnya. Meskipun ini rumor dan nggak bisa disamaratakan ke semua film yang diproduksi Hollywood, nilai kebenarannya sedikit-banyak bisa diaminkan. Lihat saja Little Mermaid versi Disney dan versi aslinya.

Kontra:

  • Ending bahagia itu dianggap predictable atau gampang ditebak.
  • Ending bahagia itu dianggap superficial.
  • Pembaca yang menyukai ending bahagia dianggap in denial, menutup mata dari fakta bahwa nggak semuanya dalam hidup ini berakhir seperti yang kita inginkan. Ada juga yang beranggapan bahwa penyuka ending bahagia itu yang nggak bisa move on dari dongeng sebelum tidur dan film-film Disney yang ditonton semasa kecil. Pembaca ending bahagia dianggap childish.

SAD ENDING

Pro:

  • Ada anggapan bahwa tragedi justru membuat orang jadi lebih bahagia. Err, what?! Mungkin ini terdengar aneh, tapi agak masuk akal juga setelah mendengar teori Aristoteles yang menyatakan bahwa tragic drama memberi kepuasan tersendiri, membangkitkan emosi.
  • We all have to admit, Darlings, ending sedih lebih sering diingat ketimbang yang bahagia. We’re not talking about the whole book here, but the important sad scene in the end. Seperti akhir di Gone With the Wind, atau Roman Holiday yang menyesakkan dada itu.
  • Ending tragis membuat pembaca bersyukur dengan apa yang dia miliki, keputusan apa yang dia ambil, dan sebagainya. Ini seperti efek psikologis yang sering terjadi, melihat kemalangan terjadi pada orang lain membuat kita diam-diam bersyukur karena nggak ends up seperti orang itu.

Kontra:

  • Sebenarnya tak keberatan juga dengan sad ending seandainya jalan cerita berjalan di ‘rel’ yang sudah dibangun sejak halaman pertama. Masalahnya, yang sering terjadi adalah, ketika plot cerita digiring ke arah yang sama sekali berbeda, menghancurkan semua yang dibangun sejak awal hanya karena si penulis ingin mencapai ending atau membuat scene tertentu. Contohnya, versi sebenarnya adalah Marion kemudian membunuh Robin Hood karena takut dianggap bersekongkol dalam kegiatan kriminal orang itu. Well, so much for a heroic story!
  • Bertolak belakang dengan yang dipercaya selama ini, ending sedih pun sebenarnya pun bisa ditebak. Kuncinya adalah bagian tengah cerita. Bagian tengah ending bahagia biasanya sudah akan ada tanda-tanda mau diakhiri seperti ada—nah, sebaliknya, ending sedih justru setengah mati menyembunyikan hal itu. Dan itu membuat kita sebagai pembaca harus curiga. Masa semua masalah seperti beres, padahal masih ada 150-an halaman lagi yang tersisa? Dan…, AHA! Si tokoh utama kemudian bersikap janggal (ternyata dia punya rahasia masa lalu yang kelam dan akan membahayakan hubungan dia dengan tokoh lain). Atau…, euh, kenapa si tokoh utama tiba-tiba pingsan ya (yang ternyata berlanjut dengan cerita bahwa si tokoh utama mengidap kanker akut dan umurnya bisa dihitung jari).
  • Ending sedih itu dianggap merusak cerita. Kita menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca, mengikuti naik turun plot tentang jalan hidup si tokoh, hanya untuk menemukan kalau si tokoh tak mendapatkan apa yang dia mau—dianggap adalah usaha yang sia-sia. Dan biasanya, setelah ini, si pembaca bergumam ‘What the fuck?!’ dan meninggalkan aftertaste nggak enak setelah menutup buku. Oh ya, hidup memang seperti itu. Tapi—pembaca yang anti ending sedih melanjutkan argumennya—kalau hanya untuk menemukan fakta hidup nggak selamanya berakhir bahagia, kenapa harus capek-capek membaca buku segala kan? Tinggal lihat ke sekeliling saja.

 

WHAT I WANT TO SAY IS THIS…

Ending sedih maupun bahagia ternyata sama-sama ada kelebihan dan kekurangannya. Sepenuhnya terserah kamu sebagai penulis akan memilih akhir seperti apa, tapi sebaiknya perhatikan poin-poin berikut:

 

SIAPA TARGET PEMBACAMU

Kenali pembacamu. Siapa yang akan kamu senangkan/buat menangis. Dengan begitu, kamu juga bisa menebak-nebak apa ekspektasi pembaca terhadap cerita kamu.

 

PERHATIKAN TONE CERITAMU

Saat memutuskan akan menulis untuk genre apa, kamu sebenarnya sudah tahu akan mengakhiri cerita kamu seperti apa. Kalau kamu memutuskan untuk menulis drama, pembaca nggak akan keberatan kok dengan akhir yang tak bahagia.

Sebaliknya, kamu nggak bisa melakukan itu di genre romantic comedy. There is no friggin’ way sad ending suits with romantic comedy. Dan nggak masuk di akal sehat aja, semua tawa dan keceriaan di awal ditutup dengan suasana tegang dan mencekam di akhir. Sorry if I’m too rude about this, but what you’re doing is not writing a rom-com, but a very bad old-style Bollywood movie.

 

HAPPY ENDING/SAD ENDING VERSUS GREAT/BAD ENDING

Daripada memikirkan akan mengakhiri cerita happy ending maupun sad ending, kenapa nggak coba menulis ending yang bagus saja?

 

KNOW YOUR CHALLENGE

Dan tantangan di setiap jenis ending berbeda-beda lho:

Happy ending writer, 1) apa benar itu ending bahagia? Jangan-jangan justru dianggap ending yang membuat ceritamu terasa datar-datar saja karena tanpa gejolak emosi? 2) apa kamu mampu menulis cerita yang dibaca berkali-kali pun masih memberikan perasaan hangat dan menggebu-gebu yang sama, seperti saat pertama kali membacanya?

Sad ending writer, 1) apa memang itu ending terbaik untuk tokoh-tokohmu? Mengakhiri cerita dengan membuat semua tokoh ceritamu mati kesambar petir juga sad ending lho sebenarnya, tapi itu juga disebut dengan BAD ENDING. Dan bad ending itu berarti bad writing. 2) berbeda dengan happy ending, menulis dengan akhir sedih itu nggak bisa dilakukan terus-terusan lho di buku selanjutnya. Buku pertama, sad ending. Buku kedua, sad ending. Buku ketiga, sad ending. Alih-alih dianggap konsisten, yang ada kamu bisa dicap nggak kreatif. Jadi, hati-hati ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *