9 October 2017,
 0

Nggak bisa disangkal, bagian inti novel romance adalah kisah cintanya. Alasan utama pembaca menggemari bacaan dari genre ini nggak lain karena ingin menyaksikan proses kedua karakter utama jatuh cinta. Nggak sedikit yang jenuh dengan formula memperlakukan-satu-sama-lain-dengan-buruk-lalu-jatuh-cinta-menjelang-bagian-ending. Pembaca mendambakan cerita cinta yang bisa diakui ketulusannya dan ikut merasakan hangat di hati ketika karakter jatuh cinta.

Cerita cinta berbeda dengan plot (meskipun, pada kenyataannya, kedua hal ini saling berhubungan). Setiap adegan di novel memperlihatkan perkembangan hubungan di antara keduanya, seperti apa mereka mulai merasakan ketertarikan satu sama lain, dan letupan emosi selama prosesnya.

Jadi, bagi penulis yang ingin menulis cerita romance yang menarik pembaca, penting untuk memastikan intensitas emosi antarakarakter dimulai dari awal.

 

Pertanyaan berikutnya: bagaimana menciptakan chemistry antarkarakter?

 

  1. Hati-hati dengan tipe plot lust/hate at the first sight

Lust:

Bukan kali pertama kita membaca novel yang mengawali ceritanya dengan adegan karakter utama melihat calon love interest-nya untuk kali pertama dan langsung jatuh cinta. Segampang itu: jatuh cinta pada pandangan pertama. Bukan sekali dua kali juga menemukan novel yang menceritakan si karakter utama jatuh cinta untuk waktu yang lama dan ketika love interest bereaksi terhadap perhatiannya, si karakter utama langsung serasa berada di langit ketujuh.

Sayangnya, pola seperti ini nggak terlalu menarik sebagai cerita cinta dalam novel romance. Ketertarikan fisik nggak sama dengan cinta. Bahkan meskipun karakter utamamu adalah cowok terganteng di muka bumi ini, belum tentu juga dia pasangan yang bisa diandalkan untuk menjalin hubungan jangka panjang. Mereka butuh menyadari ketertarikan satu sama lain lebih dari sekadar daya tarik fisik.

 

Hate:

Pola ini juga sering kita temukan di novel: kedua karakter utama baru bertemu dan saling benci. Bencinya pun masuk level ekstrem: bisa sampai dendam segala.

Yang banyak penulis tak sadari, membangun chemistry cinta dari rasa benci itu lebih lama prosesnya ketimbang pola cinta pada pandangan pertama. Simpelnya, coba ingat-ingat bagaimana karakter The Sims-mu yang membenci satu orang spesifik. Apakah setelah mengobrol beberapa kali, hubungan bisa langsung jadi cinta? Nggak kan. Dari kebencian berapi-api, mereka harus melewati proses jadi kenal baik dulu, cukup percaya untuk jadi teman, lalu akrab, baru… jatuh cinta!

 

  1. Seimbangkan Ketertarikan Fisik dengan Alasan

Seperti yang tadi dijelaskan, supaya novel romance-mu berhasil, karakter cewek dan cowokmu harus dibuat tertarik lebih dari sekadar nafsu saja. Harus ada penjelasan logis dan alasan masuk akal kenapa mereka tertarik satu sama lain—berlaku juga sebaliknya, ketika karaktermu marah satu sama lain. Long story short: seperti halnya terjadi di dunia nyata, karaktermu butuh alasan untuk mencintai/membenci orang lain.

 

[Bagaimana cara memperlihatkan perasaan tulus karaktermu pada pasangan? Lewat kelembutan, perhatian, respek, dan—ini perlu juga—rasa humor.]

 

  1. Faktor-Faktor yang Berpotensi Mengganggu Usahamu Membangun Chemistry Karakter
  • Plot/jalan cerita terlalu ribet: Boro-boro sempat bikin karaktermu jatuh cinta secara alami, menyelesaikan masalah mereka masing-masing aja sudah menghabiskan energi.
  • Terlalu banyak yang perlu dijelaskan: Yang seperti ini sering terjadi untuk novel romance yang berhubungan dengan profesi dan yang melibatkan area yang asing bagi pembaca kebanyakan. Dari halaman awal pun, penulis sudah dibebani dengan tanggung jawab menjelaskan ini-itu, mendeskripsikan tempat atau setting yang kompleks. Akibatnya, porsi untuk membangun chemistry percintaan pun jadi terbatas, bahkan malah sedikit sekali.
  • Mereka nggak kunjung bertemu: Salah satu alasan hubungan bisa bertahan lama adalah intensitas hubungan antarkarakter. Kalau mereka nggak bisa mengekspresikan perasaannya, gimana juga bisa meyakinkan pembaca kalau hubungan mereka bakal awet?
  • Dialog yang nggak fokus tentang pasangan: Saat kita tertarik pada seseorang, kita seperti haus informasi tentang dirinya. Kerja di mana? Punya saudara berapa? Hobinya apa? Semacam itu. Jadi, kurang meyakinkan rasanya kalau masih dalam tahap kenal, keduanya tak memiliki ketertarikan untuk mencari tahu satu sama lain.
  • Kebanyakan karakter pendukung: Hati-hati, kebanyakan karakter sekunder bisa membuat fokus cerita bergeser ke mereka. Kalau kamu mulai kebanyakan menjelaskan kehidupan karakter-karakter sekundermu ketimbang fokus pada hubungan karakter utamamu, pembaca pun jadi cepat jenuh.
  • Mengoceh: Kecuali ini adalah novel dari POV pertama atau memang novel yang mengunggulkan keceriwisan karakternya (misal: serial The Princess Diaries dan Confessions of Georgia Nicolson), sebaiknya berhati-hati dengan ocehan random dan nggak relevan dengan konflik cerita.

 

  1. Faktor-Faktor yang Berpotensi Membantu Usahamu Membangun Chemistry Karakter
  • Ten Pages Rule: Ini adalah metode yang nggak banyak orang tahu. Dalam novel romance, karakter utama harus banyak menghabiskan waktu bersama. Ketika nggak bersama, usahakan jangan membiarkan mereka berpisah lebih dari sepuluh halaman.
  • Otak-atik plot dan setting novelmu supaya kedua karakter sering bersama: Misalnya, mereka memiliki ketertarikan pada hobi yang sama, bersekolah di tempat yang sama, satu ekskul, dan sebagainya.
  • Sering membuat kedua karaktermu berduaan: Kurangi distraksi karakter sekunder supaya mereka punya cukup kesempatan untuk mengenal satu sama lain.
  • Libatkan karakter sekunder untuk mendukung hubungan karakter utama: Bahkan ketika karakter utamamu tak terlihat, kamu bisa manfaatkan karakter sekundermu untuk me-recap atau berkontribusi dalam perkembangan hubungan mereka. Selain itu, berarti adegan karakter sekundermu nggak penting dan bisa dipertimbangkan untuk direvisi/dibuang dari novel.
  • Ciptakan situasi yang membuat karakter utamamu terlibat dalam situasi yang tak bisa dihindari: Riset novel-novel remaja favoritmu untuk belajar bagaimana para penulisnya membuat karakternya ‘terjebak’ satu sama lain. Misalnya, di novel Yours Truly Fathnisa Hasnah, si cowok nggak hanya bersahabat baik abang si cewek, mereka juga bertetangga. Atau seperti di novel Strings Attached karya Yoana Dianika, si cowok dan cewek dipersatukan label untuk proyek kolaborasi musik.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *