Category: blog, writing tips
5 December 2014,
 3

*Note ini dibuat gara-gara percakapan menarik dengan Koko Jeffri kemarin tentang dunia perbukuan tahun depan*

Gue selalu menganggap industri perbukuan itu seperti dunia fashion. Saat memutuskan untuk memilih target pembaca, seharusnya sudah ada pertimbangan matang juga. Seperti haute couture dan ready-to-wear aja. Standar kualitas dan ekspektasi di dua dunia itu jelas berbeda. Buku ‘haute couture‘ berusaha memuaskan selera pembaca yang memang punya pengalaman membaca lebih. Sedangkan buku ‘ready-to-wear‘ memang menarget pembaca yang cenderung menikmati buku sebagai media hiburan.

Lebih suka menulis gaya ‘haute couture‘? Monggo. Memilih menulis novel ‘ready-to-wear‘, why not? Tapi ingat, masing-masing punya plus dan minusnya, ya baik dari segi reaksi pasar maupun branding penulis. Dan hanya karena si penulis menarget pembaca yang lebih besar bukan berarti dia lantas jadi penulis yang ‘lacur’. That’s judgmental. That’s snobbery (dan penulis yang bicara miring seperti ini nggak sadar malah memperlihatkan sisi insecure-nya).
Sedangkan soal tren, jujur saja, ini perkara yang rumit. Orang baru tahu sesuatu itu tren setelah mendapatinya laku dan disukai banyak orang. Artinya, harus menunggu dulu sampai beberapa waktu lamanya, baru kelihatan mana yang tren, mana yang bukan (mirip dengan tren baju juga toh, begitu jenisnya sering muncul di majalah dan ITC, baru deh ngeh kalau itu memang lagi tren). Makanya, menulis berdasarkan tren jelas adalah keputusan fatal. Berdasarkan pengalaman gue, penulis yang ikut tren biasanya sulit jadi leader of the pack. Jatuhnya ya me-too product.
Gue percaya tren itu ada. Tapi kalau sebagai penulis lo punya percaya diri cukup, harusnya lo bisa menantang diri lo untuk MENCIPTAKAN TREN. Dan itu bisa dimulai dengan berhenti mengeluhkan pasar yang nggak punya selera. Ganti pola pikir: gimana caranya menundukkan so-called selera pasar. Gue percaya, penulis yang seperti itu punya karier menulis panjang.
*first published as a Facebook note

3 responses on “BOOK INDUSTRY: Is There Such Thing As ‘Trend’?

  1. Christian Paskah says:

    Yang dimaksud dengan buku yang ‘ready to wear’ atau ‘haute couture’ itu yang kayak apa sih?

    • admin says:

      kan sudah ada penjelasannya di artikel. ‘ready to wear’ itu perumpamaan saja, untuk menyebut kategori buku-buku bertema ringan. ‘haute couture’ sendiri memilih untuk melayani selera pembaca yang niche, jadi baik tema maupun pasarnya pun lebih sempit daripada RTW.

  2. ratna says:

    Dulu pengen ikut trend dan menghasilkan me too product. Tapi namanya pemula ya gitu deh, ga bisa mengeksekusi pikiran untuk menghasilkan following idea.

    Jadinya menulis bebas tanpa membidik satu genre dan mempertimbangkan pasar. Hasilnya cukup puas karena keluar dari mindset bahwa penulis harus ikut trend agar naskahnya di acc penerbit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *