Category: blog, book, uncategorized
22 October 2016,
 0

Bree

Keesokan harinya, aku libur bekerja. Saat terbangun dan melirik jam, waktu sudah menunjukkan puluh delapan lewat tujuh belas menit. Aku tersentak kaget. Selama berbulan-bulan, aku tidak pernah kesiangan bangun, tetapi itu wajar mengingat aku sulit tidur malam sebelumnya. Aku duduk perlahan, kamar mulai terlihat jelas. Aku merasa berat dan lelah saat mengayunkan kakiku ke samping tempat tidur. Kepalaku yang masih mengantuk hampir belum sepenuhnya jernih saat terdengar suara dari luar, seperti ranting yang patah, atau suara mesin perahu yang menyala di kejauhan, tetapi otakku menangkap berbeda dan langsung membawaku ke mimpi burukku—aku membeku, ketakutan melemaskan otot-ototku, otakku menjerit.

Aku menonton melalui jendela kecil di pintu yang memisahkan aku dan ayahku. Ayahku melihatku dari sudut matanya, dan dia mulai membuat isyarat Sembunyi, berulang kali, saat pria itu berteriak kepadanya untuk menurunkan tangan. Ayahku tidak bisa mendengarnya, dan tangannya terus bergerak untuk membuat bahasa isyarat untukku. Tubuhku tersentak saat pistol diletuskan. Aku memekik dan tanganku membekap mulut sendiri untuk meredam suara itu saat aku jatuh terhuyung ke belakang, menarik kakiku ke dada dan berusaha membuat diriku sekecil mungkin. Di belakang sana, tidak ada telepon. Mataku menjelajah ke sekeliling untuk mencari tempat bersembunyi, tempat aku bisa merangkak masuk. Dan pada saat itulah pintu terbuka….

Kenyataan kembali saat dunia di sekelilingku menjadi jelas dan aku merasakan seprai yang kuremas. Aku mengembuskan napas terengah, lalu berdiri dengan kaki gemetar, bergegas ke toilet tepat pada waktunya. Tuhan, aku tidak bisa melakukan ini selamanya. Ini harus berhenti. Jangan menangis, jangan menangis. Phoebe duduk di lantai di dekat kakiku, menggonggong pelan.

Setelah beberapa menit, akhirnya aku bisa mengendalikan diri. “Tidak apa-apa, Sayang,” kataku, menepuk kepala Phoebe dengan nada menenangkan, untuknya dan juga untukku.

Aku berjalan terseok ke kamar mandi dan dua puluh menit kemudian, saat mengenakan baju renang, celana pendek dan tank top biruku, aku merasa sedikit lebih baik. Aku menarik napas panjang, memejamkan mata dan menguatkan diriku sendiri. Aku baik-baik saja.

Setelah menghabiskan sarapan dengan cepat, aku memakai sandalku, mengambil buku dan handuk, memanggil Phoebe, lalu melangkah ke luar rumah, disambut oleh udara yang hangat dan sedikit lembap. Nyamuk sudah mulai berdengung di sekelilingku, dan terdengar suara katak menguak di kejauhan.

Aku menghirup udara segar, aroma pinus, dan air danau yang segar memenuhi paru-paruku. Saat menaiki sepeda, dengan Phoebe di keranjang depan, aku sudah bisa bernapas dengan teratur.

Aku bersepeda ke Jalan Briar lagi dan duduk di tepi danau, persis di tempat yang sama seperti beberapa hari sebelumnya. Aku membenamkan diri ke dalam novelku. Sebelum menyadarinya, aku sudah selesai membacanya dan waktu dua jam sudah berlalu. Aku berdiri dan merenggangkan tubuh, menatap danau yang tenang, melihat-lihat ke sisi lain tempat perahu dan jet ski bergerak membelah air.

Sambil melipat alas handukku, aku merasa sangat beruntung dapat berakhir di sisi danau yang ini. Kedamaian dan ketenangan yang ditawarkan tempat ini sangat kubutuhkan.

Aku memasukkan Phoebe ke keranjang, lalu mendorong sepedaku di jalan setapak menanjak menuju jalan raya, sebelum mengayuhnya dengan perlahan ke arah pagar rumah Archer Hale.

Aku berhenti di sisi jalan saat truk pengantar surat melewatiku, sopirnya melambaikan tangan. Ban truk itu mengirimkan debu yang membuatku terbatuk. Aku mengibas-ngibaskan tangan untuk menyingkirkan sisa debu dari depanku sebelum mengayuh sepedaku lagi.

Aku bersepeda sejauh tiga puluh meter dan berhenti lagi, berdiri menatap pagar itu lagi. Hari ini, karena posisi matahari di langit, aku bisa melihat beberapa papan persegi di hutan, seolah pernah ada papan tanda yang digantung di sana, tetapi sudah diturunkan.

Saat mulai mengayuh lagi, aku melihat pintu pagarnya sedikit terbuka sehingga aku berhenti dan menatapnya selama beberapa detik. Petugas pos pasti mengirimkan sesuatu ke sana dan membiarkannya terbuka.

Setelah menyandarkan sepeda di pagar, aku membuka pintunya lebih lebar untuk menjulurkan kepalaku ke dalam.

Aku menarik napas tercekat saat melihat jalan berbatu yang indah mengarah ke rumah kecil bercat putih sekitar tiga puluh meter dari tempat aku berdiri sekarang. Aku tidak tahu apa yang persisnya kuharapkan, tetapi yang pasti bukan ini. Semuanya terlihat rapi dan bersih, terurus dengan baik. Ada hamparan rumput sehijau zamrud di antara pepohonan di satu sisi jalan, dan taman kecil tepat di sebelah kirinya.

Aku menarik kepalaku, lalu mulai menutup pintu pagarnya saat Phoebe melompat keluar dari keranjang sepeda dan menyelipkan tubuhnya ke celah pintu.

Sial!” umpatku. “Phoebe!”

Aku membuka pintu itu lagi sambil mengintip ke dalam. Phoebe berdiri di ujung jalan setapak, menatapku sambil terengah.

“Anjing nakal!” bisikku. “Kembali ke sini!”

Phoebe menatapku, berbalik, lalu berjalan lebih jauh. Aku mengerang. Ya ampun! Aku berjalan melewati pintu, membiarkannya tetap sedikit terbuka sambil terus memanggil Phoebe yang sepertinya menolak mendengarkanku.

Saat mendekati rumah, aku bisa melihat patio batu besar dan jalan setapak di depan rumah, dibangun di kedua sisinya, dan dihiasi dengan pot besar penuh tanaman hijau.

Mataku menjelajahi halaman, dan tiba-tiba saja aku menyadari ada suara pukulan keras yang terdengar setiap beberapa detik. Apakah ada seseorang yang sedang membelah kayu? Apakah itu suara kayu terbelah?

Phoebe berjalan ke belakang rumah, lalu hilang dari pandangan.

Aku memiringkan kepala, mendengarkan dan menyesuaikan bobot tubuhku di satu kaki dan di kaki yang satu lagi. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa meninggalkan Phoebe di sini. Aku tidak bisa kembali ke pintu gerbang, lalu berteriak keras agar dijawab oleh Archer—pria itu tidak bisa mendengar.

Aku harus masuk mengejar Phoebe. Archer ada di sana. Aku bukanlah tipe gadis yang mau menempatkan diri dalam situasi bahaya. Aku tak pernah melakukan hal bahaya sebelumnya—tapi, sepertinya bahaya tetap saja menemukanku. Berjalan ke area yang tak dikenal bukanlah sesuatu yang ingin kulakukan. Dasar anjing nakal sialan. Saat aku berdiri di sana sambil berpikir, mengumpulkan keberanianku untuk mengejar Phoebe, aku teringat kepada Archer. Instingku mengatakan dia tidak berbahaya. Dan, instingku pasti berarti sesuatu. Apakah aku akan membiarkan pria iblis itu membuatku meragukan instingku sendiri seumur hidup?

Aku teringat tentang bagaimana bulu kudukku berdiri begitu mendengar suara lonceng pintu depan kami malam itu. Sesuatu di dalam diriku pasti sudah mengetahuinya, lalu sekarang, berdiri di sini, sesuatu di dalam diriku merasa aku aman, tidak dalam bahaya. Kakiku pun melangkah maju.

Aku menyusuri jalanan dengan perlahan, menghirup bau karet dan rumput yang baru disiangi sambil terus memanggil Phoebe.

Aku melewati jalan setapak ke belakang rumah, membiarkan tanganku menyentuh dinding kayu yang dicat putih. Aku mengintip ke belakang rumah dan di sanalah dia. Punggung telanjangnya menghadap ke arahku saat dia mengangkat kampaknya ke atas kepala, otot punggungnya menonjol saat dia mengayunkannya turun, membelah gelondongan kayu tepat di bagian tengah hingga potongannya terlempar dan mendarat di tanah.

Archer membungkuk dan mengambilnya, menempatkannya di tumpukan kayu yang tertata rapi di bawah pohon, terpal besar terbuka di satu sisi.

Saat berbalik ke tempat pemotongan kayu, Archer melihatku dan terkejut, lalu membeku. Kami berdua berdiri di sana, menatap satu sama lain, mulutku terbuka sedikit, matanya membelalak lebar. Burung terbang di atas kami, dan teriakan jawabannya bergema di antara pepohonan.

Aku menutup mulutku dan tersenyum, tapi Archer tetap menatapku selama beberapa detik. Matanya menjelajahiku dari kepala sampai kaki dan kembali lagi ke wajahku, kini matanya disipitkan.

Mataku juga menjelajahi tubuhnya, dada telanjang yang bidang, kulit berotot yang mulus dan perut yang rata. Aku tidak pernah benar-benar melihat eight-pack, tapi itulah yang kulihat sekarang, tepat di hadapanku. Aku rasa itu sedikit aneh, petapa bisu memiliki fisik mengagumkan. Indah sekali.

Archer memakai celana yang terlihat seperti celana khaki, dipotong sebatas lutut dan diikat di pinggang dengan… apakah itu tambang? Menarik. Mataku turun ke sepatu kerja di kakinya, lalu kembali lagi ke wajahnya. Archer memiringkan kepalanya ke satu sisi saat kami mengamati satu sama lain, tapi ekspresi wajahnya masih tetap sama—waspada.

Jenggot Archer masih sama berantakannya seperti saat kali pertama aku melihatnya. Tampaknya, hobi pria itu merapikan halaman tidak menular ke jenggot dan kumisnya sendiri. Wajahnya sangat membutuhkan perawatan. Melihat panjangnya jenggot Archer, dia pasti tidak pernah mencukurnya untuk waktu yang lama—mungkin bertahun-tahun.

Aku berdeham. “Hai.” Aku tersenyum, bergeser mendekat agar dia bisa membaca gerak bibirku. “Maaf sudah, eh, mengganggumu. Anjingku lari ke sini. Aku memanggilnya, tapi dia tidak mendengarku.” Aku melihat ke sekeliling, tapi Phoebe tidak terlihat di mana pun.

Archer menepiskan rambut yang jatuh ke depan matanya, keningnya berkerut. Dia berbalik dan mengangkat kampak, menancapkannya ke batang pohon, lalu berbalik menghadapku lagi. Aku menelan dengan susah payah.

Tiba-tiba saja, bola bulu kecil berlari keluar dari hutan, menghampiri Archer, duduk di kakinya sambil terengah.

Archer menunduk, lalu membungkuk untuk menepuk kepala Phoebe. Anjing itu menjilati tangan Archer dengan penuh semangat, menggonggong untuk meminta lebih saat Archer menarik tangannya dan berdiri. Pengkhianat kecil.

“Itu dia,” kataku, menyatakan yang sudah jelas. Archer masih terus menatapku.

“Eh, jadi, rumahmu,” lanjutku, melambaikan tangan ke sekeliling, mengindikasikan propertinya, “sangat bagus.” Archer masih terus menatapku. Akhirnya, aku memiringkan kepala. “Kau ingat aku? Dari kota? Cokelat yang berjatuhan?” Aku tersenyum.

Pria itu masih menatapku.

Ya Tuhan, aku harus pergi. Ini sangat canggung. Aku berdeham. “Phoebe,” panggilku. “Kemarilah.” Phoebe menatapku, masih duduk di kaki Archer.

Mataku beralih dari Archer ke Phoebe. Keduanya diam mematung, mata mereka terfokus kepadaku.

Wah.

Mataku terfokus kepada Archer. “Kau memahamiku? Apa yang kukatakan?” tanyaku.

Sepertinya, kata-kataku hanya menarik sedikit perhatiannya. Dia masih menatapku, bibirnya mengerut dan mengembuskan napas, seperti orang yang membuat keputusan. Dia berjalan melewatiku menuju rumahnya, Phoebe mengikuti. Aku berbalik untuk mengamatinya, merasa bingung, dan saat dia berbalik, dia menatapku sambil memberi isyarat agar aku mengikutinya.

Saat tiba di tempat Archer sedang berdiri menunggu, aku berkata, “Kau bukan pembunuh kampak atau semacamnya, kan?” Aku hanya bergurau, tapi sempat terpikir olehku jika aku berteriak, tidak ada seorang pun di dekat sini yang bisa mendengarku. Percayalah pada instingmu, Bree, tegasku mengingatkan diri sendiri.

Archer Hale menaikkan alis, lalu menunjuk batang kayu tempat dia menancapkan kampaknya. Aku menoleh ke sana, lalu kembali lagi menatap Archer.

“Benar,” bisikku. “Urusan pembunuhan kampak tidak bisa dilakukan jika kau tidak membawa kampak.”

Senyum tipis yang pernah kulihat di tempat parkir muncul lagi, dan itu menegaskan instingku. Aku mengikuti Archer ke depan rumahnya.

Dia membuka pintu depan dan aku terkesiap saat melihat ke dalamnya. Ada perapian bata besar yang diapit oleh dua rak buku dengan tinggi dari lantai sampai ke langit-langit. Aku mulai berjalan ke arah rak buku itu dengan pikiran kosong, seperti robot pencinta buku, tetapi aku merasakan tangan Archer di lenganku sehingga aku berhenti. Archer mengangkat tangan untuk mengindikasikan dia akan pergi sebentar. Saat kembali beberapa detik kemudian, Archer membawa buku catatan di tangannya, lalu menuliskan sesuatu. Aku menunggu, dan saat dia membalik buku itu ke arahku, tulisan tangan yang sangat rapi berkata:

IYA, AKU MEMAHAMIMU.

APAKAH ADA HAL LAIN YANG KAU BUTUHKAN?

                Mataku beralih ke mata Archer dan mulutku terbuka sedikit, tapi aku menutupnya lagi sebelum menjawab pertanyaannya. Omong-omong, itu pertanyaan yang kasar. Namun sungguh, apakah aku mengharapkan perlakuan lain? Aku menggigit bibirku sejenak, memindahkan bobot tubuhku di antara kedua kaki saat dia mengamati, menunggu jawabanku. Ekspresi wajahnya masih waspada dan hati-hati, seolah dia tidak tahu apakah aku akan menjawabnya atau menggigitnya, dan dia bersiap untuk keduanya.

“Eh, aku hanya, merasa tidak enak soal tempo hari. Aku tidak tahu kau tidak… bicara, dan aku hanya ingin kau tahu itu tidak disengaja, apa yang kukatakan… aku hanya… aku baru di kota ini dan….” Yah, ini akan berjalan dengan mulus. Ya Tuhan. “Kau mau piza atau sesuatu?” cetusku, mataku membelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja kuucapkan. Aku tidak bermaksud mengatakannya, kata-kata itu terlontar begitu saja. Aku menatapnya dengan sorot penuh harap.

Archer balas menatapku seolah aku adalah soal matematika sulit yang tidak bisa dipecahkannya.

Pria itu mengerutkan kening, lalu  menulis lagi, tanpa sedikit pun memutuskan kontak mata kami. Akhirnya, dia menunduk untuk melihat apa yang ditulisnya dan menunjukkannya kepadaku:

TIDAK.

Aku tidak bisa mencegah tawaku yang tiba-tiba pecah. Archer tidak tersenyum, hanya terus menatapku. Tawaku terhenti. Aku berbisik, “Tidak?”

Ekspresi bingung tampak di wajah Archer saat dia mengamatiku dan dia membalikkan buku catatannya untuk menulis lagi. Saat menunjukkannya kepadaku, dia menambahkan satu kata di bawah kata yang pertama. Sekarang di buku itu ada tulisan:

TIDAK,

TRIMS.

                Aku menghela napas, merasakan pipiku panas. “Baiklah, aku mengerti. Yah, sekali lagi, aku minta maaf soal kesalahpahaman di tempat parkir. Maaf… karena sudah masuk tanpa izin… anjingku….” Aku menggendong Phoebe. “Yah, senang bertemu denganmu. Oh! Omong-omong, aku tidak benar-benar bertemu denganmu. Aku tahu namamu, aku Bree. Bree Prescott. Dan, aku akan keluar sendiri.” Aku menunjuk ke belakang dari atas bahuku, berjalan mundur, kemudian bergegas balik badan dan setengah berlari menuju pintu pagar. Aku mendengar langkah kaki Archer di belakangku, berjalan ke arah yang berlawanan, tebakanku dia kembali ke tumpukan kayunya.

Aku keluar pintu pagar, tetapi tidak menutupnya dengan rapat. Alih-alih, aku berdiri di sisi lain pintu, dengan tangan masih memegangi pintu kayu itu. Wah, itu aneh. Dan, memalukan. Apa yang kupikirkan hingga mengajaknya makan piza denganku? Aku menengadah ke langit, meletakkan tanganku di kening sambil meringis.

Saat berdiri di sana sambil berpikir, aku teringat sesuatu. Aku bermaksud menanyakan kepada Archer apakah dia tahu bahasa isyarat, tapi dengan kecanggunganku, aku melupakannya. Kemudian, Archer mengeluarkan buku catatan konyol itu. Namun, sekarang aku menyadari, Archer Hale tidak pernah satu kali pun memperhatikan bibirku saat aku bicara. Dia mengamati mataku.

Aku berbalik, lalu berjalan lagi melewati pintu pagar, setengah berlari ke belakang rumah, dengan Phoebe masih dalam gendonganku.

Archer berdiri di sana, memegang kampak di tangannya, dan sepotong kayu berdiri tegak di atas batang pohon, tetapi dia tidak mengayunkan kampaknya. Dia hanya menatapnya dengan kening berkerut, terlihat sedang berpikir serius. Saat melihatku, wajahnya memperlihatkan ekspresi terkejut sebelum matanya menyorotkan kewaspadaan lagi.

Saat Phoebe melihat Archer, anjing itu mulai menggonggong dan terengah lagi.

“Kau tidak tuli,” kataku. “Kau bisa mendengarku dengan baik.”

Archer tetap terdiam selama beberapa menit, tetapi kemudian dia menancapkan lagi kampaknya di batang pohon, berjalan melewatiku sambil menoleh ke belakang seperti yang dilakukannya tadi, memberi isyarat kepadaku untuk mengikutinya. Dan, aku melakukannya.

Archer melewati pintu rumahnya, lalu keluar lagi dengan membawa buku catatan dan pena yang sama di tangannya.

Setelah semenit, dia menunjukkan buku catatan itu kepadaku:

AKU TIDAK PERNAH BILANG AKU TULI.

                Aku terdiam. “Tidak, kau memang tidak pernah mengatakannya,” kataku dengan suara pelan. “Tapi, kau tidak bisa bicara?”

Archer menatapku, lalu menulis lagi selama setengah menit. Setelah selesai, dia menunjukkannya lagi kepadaku:

AKU BISA BICARA. AKU HANYA INGIN PAMER TULISANKU YANG BAGUS.

                Aku menatap kata-kata itu, mencernanya, mengerutkan kening, kemudian pandangan mataku terangkat ke wajahnya. “Itu maksudnya,.. kau sedang melucu?” tanyaku, masih mengerutkan kening.

Archer menaikkan alisnya.

“Benar,” kataku, memiringkan kepala. “Yah, kau mungkin harus mengasah kemampuan itu.”

Kami berdiri bertatapan selama beberapa detik, saat Archer menghela napas berat, lalu menulis lagi:

ADA HAL LAIN YANG KAU INGINKAN?

                Aku mengangkat pandangan mataku ke Archer lagi. “Aku tahu bahasa isyarat,” kataku. “Aku bisa mengajarimu. Maksudku, kau tidak akan bisa memamerkan tulisanmu yang bagus, haha, tapi itu cara yang lebih cepat untuk berkomunikasi.” Aku tersenyum, penuh harap, mencoba membuatnya tersenyum juga. Apakah dia tersenyum? Apakah dia bisa melakukannya?

Archer menatapku sejenak sebelum meletakkan buku catatan dan penanya ke tanah di sampingnya, menegakkan tubuh, mengangkat tangannya dan membuat bahasa isyarat, aku sudah tahu bahasa isyarat.

                Aku tersentak kaget, dan tenggorokanku terasa tercekat. Tidak ada yang menggunakan bahasa isyarat denganku selama lebih dari enam bulan dan melihatnya lagi membuatku merasakan kehadiran ayahku.

“Oh,” gumamku, menggunakan suaraku karena tanganku masih menggendong Phoebe. “Benar. Kau pasti berbicara dengan pamanmu dengan cara itu.”

Archer mengerutkan kening, mungkin bertanya-tanya bagaimana aku bisa tahu tentang pamannya, tetapi dia tidak bertanya. Akhirnya, dia membuat isyarat, Tidak.

Aku mengerjapkan mata, dan setelah beberapa menit aku berdeham. “Tidak?” tanyaku.

Tidak, ulangnya.

Sunyi lagi.

Aku mengembuskan napas. “Yah, aku tahu ini sedikit bodoh, tapi aku pikir mungkin kita bisa menjadi… teman.” Aku mengangkat bahu sambil tertawa kikuk.

Archer menyipitkan matanya lagi, tetapi hanya menatapku, tidak menulis apa pun lagi.

Aku memandangi Archer dan buku catatannya bergantian, tetapi saat menyadari dia tidak akan “mengatakan” apa pun lagi, aku berbisik, “Semua orang membutuhkan teman.” Semua orang membutuhkan teman? Sungguh, Bree? Astaga, kau terdengar menyedihkan.

                Archer terus menatapku.

Aku menghela napas, merasa malu sekaligus kecewa. “Baiklah, aku rasa terserah kepadamu saja. Aku akan pergi sekarang.” Sungguh, kenapa aku merasa kecewa? Travis benar—orang ini tidak merespons pada keramahan.

Archer masih menatapku, mata berwarna wiskinya melebar saat aku mulai berjalan mundur. Aku ingin menyingkirkan rambut panjang itu dari wajahnya, mencukur semua jenggot dan kumisnya agar bisa melihat seperti apa tampangnya. Sepertinya, pria itu memiliki wajah yang tampan di bawah semua rambut dan bulu itu.

Aku menghela napas berat. “Baiklah. Yah, kalau begitu, aku rasa aku akan pergi….” Sudah tutup saja mulutmu, Bree, lalu PERGI. Jelas sekali orang ini tidak mau berurusan denganmu.

                Aku merasa mata Archer mengikutiku saat aku berbalik dan berjalan keluar dari pintu pagar, kali ini aku menutupnya dengan rapat. Aku bersandar di sana selama semenit, menggaruk dagu Phoebe, bertanya-tanya ada apa dengan diriku. Apa maksud semua itu? Kenapa aku tidak mengambil saja anjing sialan ini, lalu langsung pergi?

“Anjing nakal,” makiku kepada Phoebe, menggaruknya lagi. Phoebe menjilati wajahku. Aku tertawa dan balas menciumnya.

Saat menaiki sepedaku dan mulai mengayuh pergi, terdengar lagi suara kayu yang dibelah.

 


Keterangan buku:

Archer's Voice karya Mia Sheridan (edisi Bahasa Indonesia), terbitan Twigora

ARCHER’S VOICE

Mia Sheridan

Novel Dewasa/Terjemahan

ISBN: 978-602-70362-8-4

PENULIS BESTSELLER NEW YORK TIMES

 

Tagline:

Dalam hening, aku bisa mendengar suara cintanya…

Blurb:

Ketika Bree Prescott tiba di Pelion, Maine, besar harapan perempuan itu bahwa di sanalah akhirnya dia memperoleh kedamaian yang begitu putus asa dicarinya selama ini. Hari pertama menginjakkan kaki di sana, Bree dipertemukan dengan Archer Hale, laki-laki yang sepertinya membiarkan saja dirinya dikucilkan oleh orang-orang di kota itu. Sosok yang ternyata memiliki derita yang disimpan untuk dirinya sendiri—sama seperti Bree.

Archer’s Voice adalah cerita tentang seorang perempuan yang dirantai ke kenangan tentang satu malam yang mengerikan dan orang yang dia cintai adalah kunci kebebasannya. Ini adalah cerita tentang seorang laki-laki terbiasa hidup dalam hening dan perempuan yang membantu menemukan suaranya. Archer’s Voice adalah alasan baru untuk kembali memercayai cinta… dan kekuatan penyembuhan yang dimilikinya.

Keunggulan:

Archer’s Voice terpilih sebagai nominasi Goodreads Choice Awards 2014 kategori romance.

Rating di Goodreads 4,49 stars, 49.783 rating dan 6.842 review (tertanggal 18 Juli 2016)

Sudah diterjemahkan ke 13 bahasa, termasuk Bahasa Indonesia oleh Twigora

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *