Category: book
26 May 2014,
 3

“Kopi aja. Yang black ya?”

Kubiarkan pelayan itu mencatat pesananku di memo di tangannya. Tiba-tiba pulpennya berhenti menulis, pelayan itu mengangkat wajahnya dari memonya, bertanya lagi, “Makanannya?”

Aku menggeleng pelan. “Entar aja. Saya lagi nunggu temen kok.”

“Oh. Ditunggu ya pesanannya.”

Duduk sendirian di kafe bukan gayaku, tentu aja. Aku sedang menunggu seseorang—lebih tepatnya sih dua orang. Fendi dan pacarnya yang ingin dikenalkannya padaku. Mereka sama-sama dateng dari Bandung khusus ketemuan denganku, tapi tentu aja inti perjalanan mereka adalah untuk keliling-keliling Jakarta berdua aja. Aneh. Padahal mereka kan tinggal di Bandung, setauku orang Jakarta justru datang berduyun-duyun ke sana untuk berlibur.

“Gi, aku kayaknya udah nemu soulmate-ku…” Aku masih ingat kata-kata Fendi waktu pertama kali kali ngeliat cewek itu di kampusnya. Dia langsung nelepon seolah-olah itu kabar hebat yang harus segera dilaporkannya padaku.

Really?” aku menahan geli. “Siapa, ‘Ndi?”

“Hehehehe, kami bahkan belum jadian,” dia terkekeh-kekeh untuk beberapa saat di seberang sana. “Aku ngeliat tuh cewek melintas di depanku barusan dan tiba-tiba, BAM! Aku jatuh cinta, Gi. Aku sempet ngiranya suka sama tuh cewek karena fisik. Tapi enggak. Aku duduk sama temen-temen dan salah satunya cewek tercantik di jurusanku, tapi aku bahkan nggak ngeliriknya sama sekali. Pandanganku sepenuhnya tertuju ke cewek itu. Pasti bukan sekedar fisik kan, meskipun kuakui cewek itu tuh HOT banget. Pasti ada unsur chemistry-nya! Aku yakin banget.”

Wow! Baru kali ini aku ngeliat Fendi segitu dalemnya menggambarkan perasaannya sama cewek. Siapapun dia, orang itu pasti istimewa. Bukan jenis cewek yang biasa ditemui di dalam hidupnya—termasuk aku. TERMASUK AKU?! Jangan-jangan Fendi membandingkan aku dengan cewek itu dan… aku kalah?

“Kalo kamu memang seyakin itu sih…,” kataku, berusaha meredam perasaan aneh yang masih aja mengganggu pikiranku. Aku ini kenapa sih? Aku kan tau banget kalo Fendi nggak akan pernah melakukan hal serendah itu padaku. Pengalaman bersahabat dengannya selama dua belas tahun adalah taruhannya. “Berjuanglah, Nak. Doa Ibu selalu menyertaimu!”

“Gigi norak! Hahahahaha, tapi boleh juga. Iya, iya, wish me luck ya?”

Cerita tentang cewek itu di luar dugaanku masih akan terus berlanjut. Sebulan kemudian, aku menerima kabar darinya lewat inbox di Facebook, katanya dia dan cewek itu—namanya Hilda—udah jadian. Hah? Kapan? Kok Fendi baru cerita-cerita sekarang. Dia kontak denganku, entah itu whatsapp ato e-mail, seingatku nggak pernah tuh dia ngebahas soal cewek yang namanya Hilda. Apa Fendi udah mulai main rahasia-rahasiaan ke aku?

Fendi minta maaf dan janji akan cerita yang selengkapnya waktu kami ketemuan di Jakarta, sekitar dua mingguan lagi. Kamu dateng sama cewek itu?, tulisku di whatsapp.

Dia menjawab: Iya dong, Gi. Kamu kan best friend aku sejak kecil, kamu udah kenal aku luar dalam melebihi siapapun—mungkin melebihi orangtuaku juga. Aku pasti temen yang jahat banget kalo sampe nggak ngenalin kamu sama Hilda. Orangnya asyik kok, tenang aja. Aku berani taruhan, dalam lima menit kamu bakalan asyik ngobrol sama dia seolah-olah kalian temen lama ato apa.

Temen lama? Aku menyeringai waktu membaca balasannya. Yeah right, kayak aku bakal kenal cewek itu aja seandainya dia bukan pacar Fendi. Ya Tuhan… aku bener-bener bingung. Kebayang deh, suasananya pasti canggung banget. Duduk bertiga mengelilingi meja bundar Arabesque—kafe tempat kami janjian. Belum lagi masalah bahan obrolan. Misalnya, kalo Fendi cerita tentang cerita-cerita lucu seputar hubungannya dengan Hilda, aku otomatis seperti terasing karena berperan sebagai orang yang nggak tau apa-apa. Begitu juga sebaliknya, pas Fendi dan aku bernostalgia tentang cerita masa kecil kami, Hilda otomatis keluar dari topik. Gawat banget kan?

Dan baju—aku bingung harus berpenampilan seperti apa? Terlalu gaya, entar disangka berlebihan dan mo pamer mentang-mentang orang Jakarta. Tapi kalo dandannya biasa-biasa aja takutnya cewek itu bakalan nganggep aku si udik yang nggak bisa dandan. Ya ampun. Ya ampun. Ya ampuuuun!!! Kepalaku rasanya mo meledak saking stresnya.

Ternyata Fendi dateng ke Jakarta lebih dulu daripada Hilda. Hari Kamis dia muncul di depan pintu dan mengejutkanku sekeluarga. Fendi akrab banget sama Mama dan Papa, udah dianggap sodara sendiri. Waktu rumah kami masih satu kompleks, Fendi sering main bahkan numpang makan bareng kami sekeluarga. Orangtuaku nggak pernah keberatan. Sama seperti caranya memikatku untuk berteman dengannya, Fendi juga berhasil menarik perhatian orangtuaku. Bahkan saking sayangnya mereka sering nanya-nanya tentang Fendi, kapan lagi dia main ke rumah, setiap kali aku pulang dari sekolah.

“Dia janji bakal kemari setelah selesai ngurus masalah administrasi, bayar uang kuliah, ngisi KRS dan sebagainya,” Fendi menyandarkan kepalanya di bahuku seperti kucing manja. Itu kebiasaan anehnya dan aku nyaris menganggapnya biasa aja. Kadang-kadang dia nggak tau tempat juga sih, nyender-nyender di depan temen-temen sekolah. Mereka sering banget salah paham dengan hubungan kami. ‘Temen? Temen ato temeeen? Kalian HTS-an kan—hayo, ngaku aja!‘ Aku senyum-senyum aja menanggapi kata-kata mereka.

“Abis sekarang pergantian semester sih, anak-anak bawang macam dia pasti sibuklah. Nggak kayak kita, kakak-kakaknya yang tinggal skripsi doang. Aku sih KRS dah nitip temen. Urusan gitu sih emang biasa cincay-cincayan sama temen. Aku udah nyuruh dia nitip KRS dan uang semesterannya sama temen. Tapi dia takut banget—kelewat alim, Gi!”

“Jangan dipaksa dong.” Dalam hati aku malah kesel karena akhirnya Hilda tetep dateng ke Jakarta sini. Cih! Ngapain sih, ganggu aja. “Dia nginep dimana kalo gitu?”

“Ah, dia ada sodara kok di Jakarta Selatan.”

Kayak aku peduli aja, jawabku dalam hati.

“Terus kapan dong giliran kamu milikku seutuhnya? Jujur aja ya, bertiga sama yayangmu pasti banyak nggak enaknya. Kita kan nggak bisa ngeluarin tabiat asli masing-masing karena jaim. Iya kan? Ayo dong, kita jalan yuk. Aku udah kangen ditraktir niiih!”

“Huh, kangen ditraktir rupanya! Tiga bulan ditinggal kuliah ke Bandung, kamu masih oportunis aja ya, Gi?”

“He he he he, Gigi gitu lho!” celetukku sambil menjulurkan lidah. Fendi ikut tertawa dan mengacak-acak rambutku dengan sayang.

Dua hari berturut-turut kami habiskan dengan penuh kegiatan. Pagi, start dari rumahku. Fendi sarapan denganku di rumah, lalu ngobrol-ngobrol bentar di teras belakang. Kami berencana mo nonton film komedi di bioskop tapi entah kenapa jadinya malah main di Timezone. Uang Fendi habis banyak, tapi kami dapet hampir empat puluh tiket dari semua permainan yang kami mainkan. Fendi membagi dua tiket-tiket itu dengan adil. Hari kedua nyari buku di Gramedia. Aku dan Fendi suka baca, tapi beda selera. Fendi tertarik sama hal-hal berbau komputer macam animasi dan desain grafis—kebalik banget sama jurusan Hukum yang diambilnya. Kalo aku, dari jaman kuda gigit besi sampe kuda gigit laptop tetep setia sama romance. Koleksi novel romance-ku di rumah ada kali tiga puluhan lebih.

Tapi hari ini, karena kompakan ngerasa capek, seharian kami habiskan dengan bersantai-santai di rumahku. Fendi pengen nonton DVD, tapi waktu ngeliat film-film yang kupunya dia langsung ilfil. “Masa film romantis semua sih? Nggak ada macam film Saw ato apa kek?”

“Maksudmu Tom Sawyer? Emangnya bajakannya udah ada?” tanyaku polos—ato bego, di mata Fendi. Keliatan banget, dia langsung menyeringai jijik mendengar aku ngomong gitu. Lho, bukan salahku kan nggak tau ada film horor yang judulnya Saw.

Lalu Fendi melihat beberapa buku teka-teki silang nganggur di bawah meja kopi. Pasti salah satu dari orang rumah sini yang meletakkannya disitu. Keluargaku senang banget ngisi TTS. Aku bisa melihat keakraban keluargaku saat berusaha mengisi lengkap kotak-kotak kosong TTS. Kalo ada yang susah boleh nanya-nanya sama salah satu dari anggota keluarga, kali aja ada yang tau.

Diambilnya lalu dipilihnya satu untuk diisinya. Itulah yang membuatnya anteng duduk di kursi selama sejam lebih. Bete dicuekin, aku juga ikutan ngisi TTS. Harus kuakui, diantara Mama, Papa dan dua kakak perempuanku (kembar, namanya Cecil dan Natasha) akulah yang paling rajin nanya. Cecil sampe kesel, katanya, “Kalo Gigi nggak bisa ngisi, nggak usah ikut-ikutan deh.” Aku merengut dan ngambek nggak mau ngomong sama dia sepanjang sisa hari itu.

“Tujuh menurun, empat huruf…,” aku bergumam cukup keras hingga menarik perhatian Fendi. Dia mengalihkan perhatiannya dari buku TTS yang sedang diisinya ke arahku. “Kerangka layang-layang?! Ini jawabannya apaan siiiih??? Aku sering nemu di TTS tapi nggak pernah bisa ngejawab. Tuh kan, awalannya A. Kamu tau nggak, ‘Ndi?” tanyaku, membalas tatapannya.

Piece of cake. Arku. A-R-K-U.”

Dahiku mengernyit bingung. “Arku? Apaan tuh? Nggak pernah denger.”

“Tulis aja!” seru Fendi kesal. “Nih orang udah bego pake protes segala lagi!”

Aku langsung bangkit dari kursiku. “Apa kamu bilang?” tanyaku dengan suara tinggi. “Sialan! Baru tau Arku doang udah ngatain aku bego segala. Awas kau ya, ‘Ndi? Belum pernah ngerasan tendanganku yang baru: tendangan Satpol PP?!”

Fendi tersenyum mengejek. Kelihatannya dia sangat menikmati kemarahanku. “Nih. Orang. Udah. Bego. Pake Protes—“

Nantang nih? Sebelum dia kabur dan meninggalkanku jauh di belakangnya, tanganku berusaha menggapai bagian belakang kemejanya yang melambai saat dia berkelit menghindari tangkapanku. Sial, meleset pula! Jari kakiku menabrak kaki meja di depanku. Aduuuh, sakitnya minta ampun! Aku meringis sejadi-jadinya.

“Sakit, Gi?” Fendi mendekatiku, bahkan ikut berjongkok denganku sambil memeriksa jari-jari kakiku yang jadi korban.

“Sumpah, enak banget!” jawabku ketus. “Sakit, Gila!”

Lagi-lagi Fendi menertawaiku. Tapi kali ini dia beneran bermaksud untuk menolongku. Tangannya memijat-mijat bagian ujung jari-jari kakiku yang nyeri dan sedikit kebas. “Hehehehe, kali aja… Kubantu berdiri ya?”

Walaupun disebut pijatan, karena kelewat lembut, buatku serasa kayak dielus-elus gitu. Spontan mukaku memerah kayak udang rebus. Aduh, aduh, mana sekarang jarak wajahku dan wajahnya kurang lebih dua inci doang lagi. Seandainya ini film Hollywood pasti deh kejadian. Ciuman, maksudku.

Bukannya aku mo ciuman sama Fendi lho…

“Gigi, Gigi.” Aku paling benci kalo dia memperlakukanku kayak anak kecil. Kepalaku dibelai-belai kayak ngelus anak anjing. Benci banget, tapi aku malah membiarkan aja dia ngelakuin itu padaku. “Dulu, kamu inget nggak waktu kecil kamu pernah datang ke rumahku dengan dahi benjol dan kaki memar berdarah. Aku kaget sekaligus maraaah banget, abis aku ngiranya kamu dipukul sama anak-anak nakal ato apa. Aku udah siap-siap mo menghajar mereka, eh nggak taunya kamu bilang kamu baru aja kesandung batu.”

Aku tersenyum. “Aku memang selalu ngandalin kamu ya?” Tau-tau selanjutnya keluar kata-kata itu. Keceplosan, bisa dibilang begitu. Kalo otakku lagi normal, aku lebih baik deh digorok mati ketimbang ngomong kayak gitu. Kataku, “‘Ndi, apa kita masih tetep sedeket ini meskipun kamu udah punya pacar?”

“Masihlah. Bagaimanapun kamu adalah temen terbaik untukku dan, kamu tau, itu berlaku untuk selamanya.”

“Selamanya? Meskipun aku naksir kamu?”

Udah pasti dia kaget. Fendi melepaskan tangannya dari kakiku dan menjauh sedikit. “M-maksud kamu?”

“Fendi, tunggu dulu! Ini nggak seperti yang kamu kira.” Aku menggigit bibir bawahku, sambil nggak henti-hentinya menyesaki otakku dengan kata ‘bego’ dan ‘tolol’. Ya aku memang bego. Tolol. Tak lama lagi, karena kebodohanku yang nggak bisa mengerem mulutku sendiri, aku akan kehilangan sahabat terbaikku—dan orang yang diam-diam kucintai. Ya Tuhan, apa aku baru aja bilang… naksir? Aku nggak percaya. Bener-bener nggak percaya! “A-aku akui aku ada perasaan sama kamu, tapi aku nggak bermaksud bilang ini supaya kamu putus sama pacar kamu.”

“Sejak kapan?” Fendi menatapku tajam, nyaris setajam tatapan burung elang saat menemukan mangsanya. Asli, langsung membuatku nggak berkutik.

“Perasaan itu… sejak kapan kamu merasakannya—padaku?” ulang Fendi, kali ini suaranya melembut meskipun tetep aja terasa agak menekan.

“Ah, lebih baik nggak usah dibahas, ‘Ndi. Lupain aja, anggap aja aku tadi salah ngomong—“

“SEJAK KAPAN, GI?!”

Entah karena kaget ato apa tau-tau aku menjawab, “Udah lama,” yang memang bener adanya karena aku memang udah lama naksir Fendi. Makanya aku benci banget kalo tau deket sama cewek manapun. Hmm… kurasa aku tau sekarang alasan kebencianku pada Hilda. Aku aja heran. Aku bahkan belum pernah ketemu sama tuh cewek, kok bisa ya aku benci setengah mati sama dia? “Aku baru nyadar perasaanku ke kamu waktu banyak temen-temenku bilang aku cocok banget kalo pacaran sama kamu. Meskipun aku nyangkal dan bilang itu nggak boleh karena persahabatan kita dan sebagainya, dalam hati aku menikmati bayangan jadi pacar kamu.”

“Ini bener-bener gila!”

“Ya, cinta memang gila,” gumamku sedih.

“Bukan itu,” Andi menggeleng. “Kau tau gimana sakitnya perasaanku waktu kamu bilang kamu naksir Milo?” Milo? Lho kok… Aku terang aja kaget tau-tau Fendi mengungkit-ungkit nama Milo yang nyaris udah kulupakan. Dia cowok gebetanku waktu kelas dua SMP—merangkap cinta pertama juga. Perawakannya nggak jauh beda dengan tokoh utama cowok yang sering ditemukan di novel remaja. Ganteng, tinggi, putih dan punya senyum bertegangan seribu volt—apapun maksudnya itu.

“Dia nggak—“

“Buatku kamulah cewek yang paling istimewa dalam hidupku. Aku selalu ingin melindungimu, ada di sisimu. Aku juga sama takutnya kayak kamu. Aku nggak berani pedekate ato bahkan menyinggung ke arah-arah situ sama kamu. Gimana kalo kamu nolak aku? Parahnya lagi, gimana kalo kamu nggak mau lagi bersahabat denganku? Aku memang pengecut, Gi. Aku membunuh perasaanku sendiri, trauma untuk mencintai siapapun—sampai aku ketemu Hilda.”

Aku terhenyak dalam dudukku. Nggak kusangka… Seandainya nggak denger langsung dari Fendi, aku akan dengan mantap bilang: nggak percaya! Gila banget nggak sih? Dua belas tahun kami saling mengenal pribadi masing-masing, kecuali perasaan cinta yang perlahan-lahan muncul bersama kebersamaan kami. Tiba-tiba aku teringat 13 Going On 30… konflik di film itu kurang lebih sama dengan yang kualami, hanya aja yang dialami tokoh utama bisa diatasi dengan ‘keajaiban waktu’. Nggak ada keajaiban disini. Hanya Fendi yang bisa memutuskan akhir masalah ini. Dia putus sama Hilda dan pacaran denganku ato…

“Dia mempunyai tempat yang khusus meskipun kamu masih tetep disana, di suatu tempat di relung hatiku. Aku nggak akan memaafkan diriku kalo sampai melukai dirinya karena keegoisanku. Dan aku mencintainya—kurasa itu adalah jawaban dari semua… kesalahpahaman ini.”

…dia memilih Hilda—bukan aku.

Aku bangkit dari lantai tanpa bantuan Fendi. Aku bahkan nggak peduli dia akan menolongku ato enggak. Aku benci Fendi. Dan Hilda. Dan diriku sendiri. Aku benci terlibat dalam labirin cinta kayak gini. “Hanya salah paham,” kataku dengan sinis. “Aku juga nggak mungkin sejahat itu sama dia. Pacarmu kan nggak salah apa-apa? Lupain aja, oke? Yang berlalu biarlah berlalu…”

“Gigi, aku—“

“Jadi Arku ya,” gumamku, pura-pura menaruh minta pada TTS di hadapanku. “Hmmm, delapan menurun, enam huruf, perasaan terhadap lain jenis?”

“Asmara. A-S-M—“

“Cukup! Aku tau kok mengeja kata itu.” Tanpa sadar air mataku meleleh tanpa bisa kukendalikan lagi. Untuk kesekian kalinya, seperti waktu aku muncul di pintu rumah Fendi dengan dahi bejol dan kaki memar, aku menangis di depan Fendi. Menangis—patah hati. Sakit sekali…

* * *

“Halo, Gigi? Kamu masih ada disana kan? Lima menit lagi kami nyampe kok.” Terdengar suara kresek-kresek yang berisik di belakang Andi. Kelihatannya mereka dalam perjalanan, lagi di angkot ato apa.

Aku terdiam sejenak, sampai akhirnya aku menemukan keberanian untuk berkata, “Aku nggak bisa, ‘Ndi…”

“Kenapa?” Dari suaranya, jelas banget Fendi nggak terima dengan pembatalan sepihak ini. Tapi aku nggak peduli. Toh sekarang aku udah ada di dalam taksi. Arabesque udah tertinggal jauh di belakang sana.

“Aku minta maaf,” kataku sambil berusaha menahan tangis. Nggak boleh nangis di telepon, kataku dalam hati. Nggak boleh! Paling enggak sekali ini, Gigi, berusahalah tegar… “Untuk saat ini aku nggak bisa ketemu kalian—ato salah satu dari kalian. Please… kamu jangan paksa aku ya? Bilang aja aku nggak bisa karena mendadak sakit ato apa. Jangan ampe pacarmu tau yang sebenarnya—tentang kita juga.”

Tadinya aku kira bakalan kuat bertemu dengan mereka berdua. Tapi lihatlah aku sekarang, kayak prajurit kalah perang, kuputuskan kabur pulang dengan taksi. Ternyata nggak semudah itu menerima kekalahan. Aku bohong waktu bilang aku bisa menerima kenyataan pahit Fendi memutuskan tetep jadi pacar Hilda walaupun dengan berat hati. Siapa yang mau kubohongi? Air mataku lebih jujur dari mulutku sendiri.

 

TAMAT

3 responses on “AND I LOVE YOU SO…

  1. Racressida Narayan says:

    Oh man… entah kenapa kalau aku ada di tempatnya Gigi -bukan Gigi geraham,, gigi taring atau gigi macam apapun itu- aku bakalah ngelakuin hal yang sama. Tapi, nanti akan ada konsekuensi atas keputusan yang diambil. Hikmah dari cerita ini adalah tokoh utama alias Gigi bisa tahu perasaan Fendi a.k.a sahabatnya yang sudah 12 tahun ia kenal dan sangat ia cintai. Tapi daripada itu semua, pilihan Fendi gak salah juga karena dia lebih memilih Hilda daripada Gigi yang ternyata udah bikin dia ‘patah hati’ terlebih dahulu.
    Gak selamanya sahabat jadi cinta kan? Karena gue juga ngalamin kok kayak Gigi.

  2. daisy says:

    Fendi nya dodol deh. Tau gitu gak usah bawa-bawa Milo. Anggep aja Gigi tadi ngigo kek pas confessed. Uda persahabatannya gak murni lagi, akhirnya tetep ma Hilda pulak. Aku kok jadi benci Hilda jugak, ya. Hahahahaa. Benci Fendi, ding.

  3. della says:

    Sebel sama sih fendy itu ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *